Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

MENUNGGU KEMATIAN AYAH

Aku menunggu kematian ayah. Adalah kalimat yang lahir setelah aku berusia 24 tahun lamanya. Aku seperti menunggu bus terakhir di malam yang dingin–aku tahu ia akan datang, tapi entah kapan. Aku tak lagi marah, tapi mungkin ini adalah kelelahan yang panjang untukku. Ayahku pernah menjadi iblis di dalam rumah. Malam itu, ibu memergokinya mengirim pesan kepada Perempuan lain, Ia memukuli ibu dan mendorongnya hingga terjatuh di lantai, seolah rasa bersalahnya bisa diredam dengan kekerasan.  Aku ingat sekali suara benda jatuh, napas ibu yang terengah, dan tangan ayah yang gemetar bukan karena penyesalan, tapi karena marahnya belum habis. Lalu ia menatapku dengan mata yang tak lagi mengenal siapapun. Pernah tangannya mendarat di wajahku, anak kecil yang hanya berdiri di antara mereka, yang tak tahu harus menyalahkan siapa. Setelah itu, Ia pergi. Mabuk. Pulang. Mengulang. Lalu berjanji akan berubah, tapi tak pernah benar-benar melakukannya. Aku tumbuh dari reruntuhan kebiasaannya, belaj...