MENUNGGU KEMATIAN AYAH
Aku menunggu kematian ayah. Adalah kalimat yang lahir setelah aku berusia 24 tahun lamanya. Aku seperti menunggu bus terakhir di malam yang dingin–aku tahu ia akan datang, tapi entah kapan. Aku tak lagi marah, tapi mungkin ini adalah kelelahan yang panjang untukku. Ayahku pernah menjadi iblis di dalam rumah. Malam itu, ibu memergokinya mengirim pesan kepada Perempuan lain, Ia memukuli ibu dan mendorongnya hingga terjatuh di lantai, seolah rasa bersalahnya bisa diredam dengan kekerasan.
Aku ingat sekali suara benda jatuh, napas ibu yang terengah, dan tangan ayah yang gemetar bukan karena penyesalan, tapi karena marahnya belum habis. Lalu ia menatapku dengan mata yang tak lagi mengenal siapapun. Pernah tangannya mendarat di wajahku, anak kecil yang hanya berdiri di antara mereka, yang tak tahu harus menyalahkan siapa.
Setelah itu, Ia pergi. Mabuk. Pulang. Mengulang. Lalu berjanji akan berubah, tapi tak pernah benar-benar melakukannya. Aku tumbuh dari reruntuhan kebiasaannya, belajar berbicara dari cara ibuku diam.
Akhirnya ibu memutuskan untuk berpisah. Tapi itu hanyalah perpisahan antara ibu dan ayah–tidak benar-benar memisahkan kami darinya. Ayah masih tetap menjadi bencana dalam hidupku, bahkan tanpa kehadirannya. Ia pergi membawa tubuhnya, tapi meninggalkan perang di dalam darahku. Dari empat anak yang ia tinggalkan, akulah yang paling mirip dengannya: keras kepala, mudah meledak, dan haus akan pengakuan yang tak perlu. Aku merasa, Tuhan mencetak ulang wajah dan wataknya di diriku hanya agar aku tahu rasanya membenci diri sendiri. Atau agar ayah tahu, bahwa ia sedang melahirkan iblis baru?
…
Ada hari-hari di mana aku merasa ayah tak pernah benar-benar pergi. Ia tinggal di caraku membentak, di tatapan mataku saat marah, di nada suaraku yang tajam tanpa alasan. Aku yang kerap kali sadar saat semuanya terlambat–setelah kata-kata melukai seseorang yang seharusnya kucintai.
Saat itu aku membencinya lebih dari siapa pun, tapi juga membenci diriku sendiri karena terlalu mirip dengannya. Aku bisa memaafkan ibu karena diam, tapi tidak bisa memaafkan diri sendiri karena berteriak seperti ayah.
“kamu tuh keras kepala banget, Mil!” suara ibu meninggi, nadanya bergetar di antara Lelah dan marah. “ Kamu selalu harus menang, selalu merasa paling benar. Ibu capek menghadapi kamu yang seperti ini!”
Aku diam. Suara ibu seperti gema yang datang dari jauh, tapi setiap katanya menembus dalam dadaku.
“Kamu tahu kamu mirip siapa?” katanya lagi, kini lebih pelan tapi tajam. “Kamu mirip ayahmu.”
Duniaku berhenti sesaat. Dada terasa sesak, bukan karena kata-kata ibu, tapi karena kebenaran yang dibawanya.
Aku menatap ibu, mencari alasan untuk membantah, tapi tak ada. Yang ada hanya amarah yang tumbuh, bukan pada ibu, tapi pada nama yang disebutnya.
“Aku bukan ayah!” suaraku pecah, tapi berusaha terdengar tegas. “Jangan bandingkan aku dengannya.”
Ibu menghela napas Panjang. “Kalau bukan, buktikan. Karena setiap kamu marah begini. Aku seperti melihatnya lagi–di depan mataku. Aku seperti sedang menghadapinya.”
Ibu berbalik, meninggalkanku di ruang tamu yang tiba-tiba terasa sempit.
Aku bersimpuh duduk di lantai, menatap ubin membentuk garis seperti urat di telapak tangan. Dadaku terasa nyeri, tenggorokanku terasa seperti ada batu nyangkut–berat, tajam, dan tak mau bergerak. Air mata menggantung di tempat yang paling keras; enggan jatuh, seolah menunggu izin dari sesuatu yang lebih besar.
Kata-kata ibu terus berputar di kepalaku, seperti kalimat yang tak mau mati. Kamu mirip ayahmu.
Getir itu merayap pelan, seperti racun yang tak bisa kukeluarkan. Aku membencinya lebih dalam lagi–bukan hanya karena ia merusak hidup kami, tapi karena aku harus hidup dengan wajah dan sifat yang diwariskannya. Aku ingin ayah mati, bukan sekedar menunggu tubuhnya berhenti bernafas, tapi menunggu bagian diriku yang menyerupainya ikut mati. Karena setiap kali aku marah, setiap kali aku menyakiti orang yang kucintai dengan kata-kata, aku tahu: darahnya masih hidup di tubuhku.
Beberapa hari setelah pertengkaran itu aku pergi ke rumah nenek bersama ibu. Hujan turun pelan, sesaat setelah aku dan ibu sampai. Niatnya Cuma mengambil kue nastar buatan nenek, tapi Ibu malah mengadukanku kepada kedua orang tuanya. Dari kamar, aku mendengar suara ibu di ruang Tengah.
“Fifi capek, Mah,” kata ibu dengan suara bergetar di antar desir hujan. “Anak itu keras kepala banget. Dibilang jangan kerja jauh-jauh, malah maksa. Fifi Cuma pengen dia di rumah, bantu jaga adik-adiknya. Perempuan tuh nggak usah jauh-jauh, Mah.”
Nenek hanya diam dan sibuk membungkus nastar ke plastik. Kakeklah yang menyambar, dan menjawab kekesalan ibu. “Mau coba mandiri kali anaknya.”
“Mandiri?” Ibu tertawa hambar. “Fifi kan ibunya, Aku lebih tahulah anak itu gimana. Kalau dia udah ingin sesuatu, nggak ada yang bisa nahan. Persis bapaknya dulu.”
Kakek menghela napas Panjang dari kursi rotan. “Ya… darahnya kuat.”
“Fifi kadang takut, Pah,” lanjut ibu, suaranya mulai serak. “Takut bakal jadi kayak bapaknya. Keras kepala, seenaknya, nggak mau dengerin siapa-siapa.”
Aku mendengar semuanya dari balik pintu kamar. Setiap kata mereka seperti batu yang dilempar ke dalam dadaku.
Aku berdiri, menatap bayanganku di kaca lemari yang buram oleh usia. Wajah itu, kata mereka, mirip lelaki yang pernah memukul ibu, mendorongnya sampai jatuh, lalu pergi meninggalkan kami seolah tak pernah ada cinta di rumah.
Rasanya ingin aku berteriak, mengatakan bahwa aku bukan dia. Tapi semakin keras aku menolak, semakin jelas bayangan itu menempel di tubuhku. Aku menunduk. Dalam hatiku, yang tumbuh bukan tekad untuk berubah, tapi justru dendam yang makin menebal.
Tapi ternyata, dendam itu juga tak tahu arah. Ia bukan hanya pada ayah, tapi juga pada diriku sendiri. Karena ayah, aku tak tahu bagaimana rasanya dicintai oleh laki-laki yang tidak menuntut, tidak meninggalkan, dan tidak memukul dengan kata-kata. Aku tumbuh tanpa tahu cara mengenali laki-laki yng baik. Dan entah kenapa, aku justru jatuh pada sosok yang sama seperti dia–keras, dingin, dan pandai membuatku merasa kecil.
Aku pernah menjalin hubungan, kupikir cinta itu akan menyembuhkan. Nyatanya, aku hanya sedang mengulang luka dengan nama yang berbeda. Hubunganku kandas, dan aku menyalahkan diriku lama sekali. Sampai suatu hari aku tahu, Tuhan menyelamatkanku dengan cara yang paling pahit–mantanku menghamili seorang janda.
Aku tidak menangis. Aku hanya duduk lama, menatap tembok kamar, dan untuk pertama kalinya aku merasa…Tuhan benar-benar tahu betapa aku hampir mengulang kesalahan ibuku. Sejak hari itu aku mulai sadar;dendamku bukan cuma pada ayah, tapi pad darah yang mengalir di tubuhku sendiri–yng membuatku hampir mencintai keburukan yang sama.
…
Lama-kelamaan orang-orang mulai menertawakan kebetulan itu–ketika mereka melihatku, mereka terkadang menatap sebentar dan bercanda, “Wah, mirip bapakmu, ya.” Aku ikut tertawa, ikut menggurau, sampai diri ini tampak biasa saja di mata mereka. Mereka tak tahu bahwa di balik guruan itu, ada sesuatu yang lengket, bau, dan mulai mengganggu.
Darah itu menempel di urat-uratku, mengganggu setiap gerakanku;ia bukan hanya warisan, tapi semacam pestilensi yang masih hidup di dalam daging. Aku sudah mulai menerima cermin itu sampai aku bisa menertawakannya di depan umum–bukan karena aku Ikhlas, tapi karena menolak terlihat rapuh.
Aku bekerja. Aku mencari uang sendiri. Aku mengenal banyak orang, tertawa dengan mereka, lalu pulang dan membersihkan senyumku sendirian. Aku memperbaiki diri, mengoles luka dengan kata-kata baik dan kebiasaan baru, mengejar cita-cita yang dulu kutertawakan. Semua itu kulakukan bukan semata untuk bahagia, tapi sebagai ritual penantian.
Menanti ayahku mati. Bukan untuk merayakannya, tetapi untuk menamatkan warisan yang menempel padaku–agar cermin itu benar-benar pecah dan tidak memantulkan wajahnya lagi.
Aku ingin berada di dunia ini cukup lama. Aku ingin duduk di samping kabar itu, memandang wajah yang dulu menendang rumah kami, dan mengaku pada diri sendiri bahwa semua luka ini sudah diberi batas akhir.
Tapi siapa sangka, mungkin akulah yang akan mati duluan.
Bukan karena ajal lebih cepat, tapi karena sebagian diriku sudah mati sejak lama–sejak hari pertama aku tahu bahwa aku adalah potongan dari seseorang yang kubenci. Sejak aku menyadari bahwa kebencianku padanya… adalah cara lain darah itu bertahan.
Jika nanti kabar itu benar datang, mungkin aku sudah tidak bisa menantikannya lagi. Mungkin yang tersisa hanyalah senyum kecil dalam diam, dan tubuh yang sudah lebih dulu lelah menunggu.
Komentar
Posting Komentar