Postingan

MENUNGGU KEMATIAN AYAH

Aku menunggu kematian ayah. Adalah kalimat yang lahir setelah aku berusia 24 tahun lamanya. Aku seperti menunggu bus terakhir di malam yang dingin–aku tahu ia akan datang, tapi entah kapan. Aku tak lagi marah, tapi mungkin ini adalah kelelahan yang panjang untukku. Ayahku pernah menjadi iblis di dalam rumah. Malam itu, ibu memergokinya mengirim pesan kepada Perempuan lain, Ia memukuli ibu dan mendorongnya hingga terjatuh di lantai, seolah rasa bersalahnya bisa diredam dengan kekerasan.  Aku ingat sekali suara benda jatuh, napas ibu yang terengah, dan tangan ayah yang gemetar bukan karena penyesalan, tapi karena marahnya belum habis. Lalu ia menatapku dengan mata yang tak lagi mengenal siapapun. Pernah tangannya mendarat di wajahku, anak kecil yang hanya berdiri di antara mereka, yang tak tahu harus menyalahkan siapa. Setelah itu, Ia pergi. Mabuk. Pulang. Mengulang. Lalu berjanji akan berubah, tapi tak pernah benar-benar melakukannya. Aku tumbuh dari reruntuhan kebiasaannya, belaj...

There’s Wrong

Hai teman-teman, saat saya menulis ini, saya sedang ingin mengutarakan perasaan saya yang tak bisa saya katakan langsung kepada kedua orang tua saya.     Hari ini saya menyadari, bahwa ternyata hanya SAYA yang selama ini berusaha memperbaiki semuanya. Dulu, ketika saya belajar sosiologi di kelas, guru saya membahas tentang perubahan sosial yang cukup menakjubkan. Alhasil saya mulai membangun mimpi saya sepulang saat hari itu saya belajar.    Mimpi saya yang pertama. Saya mempunyai mimpi untuk tak lagi melanjutkan apa yang sudah kedua orang tua saya lakukan. Dari mulai pengetahuan agama, tingkat pendidikan, bahkan pernikahan. Kedua orang tua saya minim pengetahuan agama, dan akhirnya hanya mampu menyekolahkan anak di sekolah agama, tanpa adanya sentuhan psikologis  dari kedua orangtua saya. Itu terlihat juga dari cara kerja kedua orang tua saya dalam pengasuhan dan hubungan seksualitasnya. Ayah saya berselingkuh dan Ibu saya selalu sibuk untuk menjadi FBI, m...

TENANG

Ini salahku ketika aku terlalu larut dalam permainan. Tapi betapa baiknya Tuhanku yang masih mengingatkan. Bahwa diriku, dirinya, dan semua orang yang kusayangi hanyalah miliknya. Ditamparnya diriku oleh kenyataan ayat-ayat Tuhan. Bahwa semua akan kembali menjadi segumpal darah. Kini, aku terima segala hal di depan. Kini, aku terima segala bentuknya. Kini, aku pasrahkan segalanya. Kucoba untuk menjadi tenang.

HARI

Aku ingin menciptakan suatu hari. dimana di hari itu, aku tidak akan memaafkan manusia lain, selain diriku. di hari itu, aku akan abai terhadap hal kecil yang dilakukan siapapun.  tidak ada apresiasi atau pujian hangat untuk penyemangat.  di hari itu, aku hanya akan peduli pada diriku sendiri. di hari itu juga, aku tidak akan membalas pesan dengan cepat.  tidak akan aku mengkhawatirkan siapapun.  tidak akan aku menjaga hati.  tidak akan aku mengabari kemana aku pergi dan kembali. tidak akan aku perhatikan orang lain, selain diriku. tidak akan aku menunggu bersabar tersenyum bahkan berbaik hati.  kekejaman ini aku dapat di hari-hari yang tak pernah Aku buat. diabaikan, tidak berharga, tidak ada kata maaf, atau memberi ucapan selamat. di hari itu, aku Hanya akan meluapkan kemarahan untuk siapapun yang membatasiku. aku akan mengepalkan tangan di hadapan wajahmu, dan bicara lantang, "Aku tidak peduli!"

RUANG TUNGGU

suatu hari nanti, Hanya akan ada dua kabar besar yang akan bisa kalian dengar. tentang kepergianku atau, tentang kematianku. saat itulah, tak satupun mata berpaling dariku.

LELAH

Ada pesan dari semesta, Katanya, ada yang bisa mengalahkan cinta. Yaitu, lelah.

DUNIA TERBALIK

Sekali saja, aku ingin berada tepat dimana kau berdiri saat ini. Aku ingin tak peduli dengan hal-hal kecil. Seperti mengucapkan selamat pagi kepada dunia, atau selamat mimpi indah, atau sekedar berkata aku mencintaimu. Aku ingin meninggalkan semua hal tentang apresiasi dan menghargai hal-hal yang dilakukan, walaupun hanya sekedar berkata aku sangat merindukanmu. Aku ingin tak menghawatirkan hal-hal kecil, lagi. Aku ingin bebas, lagi. Aku pikir aku terlalu menjadi manusia yang baik. Aku rasa aku terlalu bermurah hati untuk selalu menanjungmu, menghargaimu. Hingga kau melewatkanku, bahkan aku melewatkan diriku sendiri.  Bagaimana? Jika duniamu, ada ditanganku? Kita balik untuk sesaat? Aku ingin merasakan apa yang kau rasakan, sebentar saja.  June,